Sustainable Design: Fondasi Menciptakan Produk yang Sustainable

0
37

Tangerang, Nextgen — Pernahkah kamu berpikir proses awal dari pembuatan barang yang kita pakai? Smartphone, baju, celana, sepatu dan barang-barang lain yang kita pakai, semuanya diawali dengan proses desain. Pada proses tersebut, semua barang akan dianalisis aspek estetika dan fungsinya sebelum direalisasikan menjadi sebuah produk. Begitulah tahap awal dari pembuatan produk yang sudah berlangsung selama berabad-abad.

Kedepannya, ada yang berbeda dalam proses desain sebuah produk. Proses desain produk tidak lagi hanya mempertimbangkan aspek estetika dan fungsi saja, melainkan aspek yang lebih tinggi yaitu value. Singkatnya, produk akan dianalisis tentang dampak apa yang bisa diberikan mulai dari proses pembuatan hingga akhir masa penggunaan produk tersebut.

Proses desain produk yang mengkombinasikan aspek estetika, fungsi, dan value disebut sustainable design atau desain berkelanjutan. Desain berkelanjutan merupakan proses desain yang berorientasi pada sustainability. Artinya, sebisa mungkin segala produk yang didesain saat ini tidak menimbulkan dampak yang buruk bagi bumi. Dengan begitu, generasi berikutnya masih bisa menikmati hidup di bumi yang ‘sehat’.

Kenapa sustainable design penting?

Sebelum membahas lebih jauh tentang peran penting desain berkelanjutan, mari kita bahas terlebih dahulu seberapa penting proses desain dalam pembuatan suatu produk. Berdasarkan data statistik, 80 persen dampak suatu produk terhadap aspek ekologi berada pada tahap desain. Dengan kata lain, baik dan buruknya dampak yang ditimbulkan dapat diperkirakan sejak tahap desain.

Proses desain merupakan proses yang sangat berpeluang dalam menentukan value dari suatu produk. Hal ini berhubungan erat dengan keputusan-keputusan yang diambil oleh desainer. Karenanya penting untuk para desainer memiliki wawasan tentang sustainability guna menciptakan produk yang sustainable.

Di awal artikel ini dibahas bahwa value produk merupakan aspek penting dari desain berkelanjutan. Lalu value seperti apa yang dimaksud? Desain berkelanjutan harus menawarkan value produk yang mampu mendukung setidaknya satu dari tujuh belas Sustainable Development Goals (SDGs).

Bagaimana contoh nyata dari desain berkelanjutan?

SDGs melingkupi banyak sektor kehidupan. Setiap sektornya memiliki peran yang penting guna menjaga kestabilan sosial, lingkungan dan ekonomi. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, desain berkelanjutan harus menghasilkan produk, baik barang atau jasa, yang mampu menciptakan kestabilan pada tiga aspek penting tersebut. Berikut merupakan produk-produk yang menerapkan aspek berkelanjutan.

Kantong biodegradable

Courtesy of tjetak.com

Banyak produk didesain dengan minim pertimbangan terkait nasib dan dampak produk pada akhir lifetime-nya. Salah satu contohnya adalah kantong plastik atau ‘kresek’. Setelah pemakaian kantong plastik akan berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). 

Kantong plastik butuh ratusan tahun agar terurai. Selama masa tersebut kantong plastik akan terus bertumpuk dan akan merusak kualitas tanah. Salah satu alternatif dari masalah tersebut adalah mengganti material kantong plastik dengan bahan yang biodegradable, sehingga mudah diurai oleh bakteri yang ada di tanah.

Pakaian biodegradable

Courtesy of thisisalovesong.com

Tidak hanya kantong plastik, pakaian sehari-hari juga terbilang susah diurai oleh tanah. Karenanya dibutuhkan desainer yang mampu mendesain pakaian dengan bahan biodegradable. Di Indonesia, tepatnya di Bali, terdapat sebuah merek baju bernama ‘This is a Love Song’. Merek ini telah menerapkan prinsip berkelanjutan yang telah diakui secara global. Baca selengkapnya di sini.

The Grow it Yourself Helmet

Courtesy of yankodesign.com

Helm Grow It Yourself adalah produk berkelanjutan yang terbuat dari miselium yang merupakan bagian vegetatif dari jamur. Miselium adalah hifa berulir yang terjalin erat menjadi jaringan massa seperti cabang menjadikannya bahan berkelanjutan yang kuat. Jaringan filamen adalah pengikat alami dan juga perekat diri ke permukaan tempat mereka tumbuh. Seluruh proses didasarkan pada elemen biologis yang membantu mendaur ulang limbah.

Proses pembuatan helm ini juga melibatkan anak-anak dalam kegiatan bermakna yang mengajarkan mereka tentang keberlanjutan dan keselamatan.

”Kami telah mengembangkan helm yang terbuat dari jerami dan miselium. Ini 100% dapat dikomposkan, bernapas, dan tahan benturan. Helm ini mengurangi penggunaan plastik dalam produk yang akan dibuang dalam waktu singkat karena tingkat pertumbuhan anak,” kata tim di NOS Design.

Untuk lebih mengembangkan desain ini, NOS bermitra dengan perusahaan bernama Polybion yang mengembangkan Fungsi Sel (paten yang menggunakan miselium). Jamur ini tumbuh seperti busa dan karena itu dapat memberikan bantalan pada saat benturan.

Selain tiga produk di atas, masih banyak produk lain yang telah menerapkan prinsip desain berkelanjutan. Jika ingin tahu lebih lanjut kamu bisa eksplor lebih jauh tentang pembahasan ini di internet. 

Nah, karena kedepannya desain berkelanjutan akan marak, maka desainer yang paham akan aspek sustainability akan sangat dibutuhkan. Jika kamu tertarik menjadi desainer dan ingin mendapat prospek karir yang baik, kamu bisa kuliah di jurusan Product Design Engineering (PDE) STEM Prasmul. Di sana kamu akan dididik menjadi desainer yang paham aspek sustainability.

Jangan lupa share konten ini ke orang-orang terdekat kamu supaya mereka gak ketinggalan info menarik ini. See ya!