Plastik Singkong Yang Aman untuk Bumi

3
127

NextGeners Masih ingat dengan kebijakan penambahan biaya plastik saat berbelanja di toko-toko? Kebijakan tersebut sempat dilakukan untuk mengurangi sampah plastik, tetapi kebijakan tersebut sayangnya tidak berlangsung lama. Penggunaan plastik masih sangat tinggi dan sampahnya masih menjadi penyebab kerusakan lingkungan, baik daratan maupun perairan yang merusak ekosistem.

Apakah NextGeners tahu dengan kemasan-kemasan edible? STEM-Z sudah pernah membahas seperti Ooho dan Evoware. Jika produk edible tersebut digunakan untuk gelas dan pelapis air, bagaimana jika produk edible diaplikasikan pada plastik? Salah satu sumber masalah sampah.

Plastik edible bernama Avani Eco-Plastik ini merupakan hasil karya anak bangsa kita asal Bali yaitu Kevin Kumala. Awal mula ide inovasi yang di dapat dari Kevin adalah ketika dia kembali ke Bali pada tahun 2009 setelah menjalankan pendidikan di Amerika, Kevin yang terkejut melihat tumpukan sampah di pantai-pantai Bali. Tak hanya di permukaan, plastik-plastik juga berada di bawah permukaan laut. Jelas mengganggu aktivitasnya sebagai penghobi surfing dan diving.

Jengah melihat kondisi ini, Kevin bersama tujuh rekannya mulai mengembangkan bioplastik ramah lingkungan yang sudah dimanfaatkan di Eropa. Kevin mencoba mencari bahan bioplastik yang berbeda dan lebih murah serta terjangkau masyarakat di Indonesia.

Kevin dan 7 kawannya melakukan penelitian terhadap jagung, kedelai, dan singkong pada 2010. Ketiga nabati itu memiliki kandungan yang dapat diolah menjadi bahan plastik. Tim Kevin menggunakan teknologi eco-plastic (bioplastik). Singkong dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan biji plastik. Mereka menggunakan ampas singkong yakni limbah yang harus dibuang. Selain daging ubi kayu yang ekonomis, sampah dagingnya pun mengandung nilai ekonomi.

Seperti dilansir dari halaman Merdeka.com Kevin mengungkapkan “Kekayaan singkong di Indonesia dan juga pertumbuhan mereka lebih cepat, akhirnya kita pilih singkong, karena Indonesia jumlah produksi singkong pada data 2015 mencapai 24 juta ton per tahun, jadi kita enggak akan kehabisan. Kita ini sewaktu produksi kantong kita tidak memakai singkong, tapi pakai ampas, diambil dari pati singkongnya. Saya ambil ampas singkong yang tadinya waste dari worth.”

Rupanya, benda yang diciptakan bersama tujuh rekannya ini langsung mendunia. Hasil kreasinya mendapat peliputan dari sejumlah media asing seperti CNN, BBC dan beberapa media besar lainnya.

Plastik ini sangat aman, selain memang dibuat dari bahan makanan singkong, plastik tersebut juga dapat hancur dalam kurun waktu 90 hari di dalam tanah dan menjadi kompos bagi tanaman. Bahkan Kevin juga berpesan ,”hei manusia aja bisa minum aman”. Karena memang plastik ini juga dapat larut dalam air dan kita dapat meminumnya, seperti pada video berikut yang menunjukan plastik ini sangat  mudah larut di dalam air panas.

Bagaimana NextGeners dengan inovasi yang dibuat oleh Kevin Kumala bersama tim nya, pastinya sangat membantu mengurangi sampah plastik, apalgi plastiknya dapat diminum.

Apakah NextGeners punya ide inovasi lainnya? Kalau begitu kita tunggu NextGeners untuk berinovasi di bidang Food Business Technology.

Sumber Referensi:

https://www.mldspot.com/profile/2017/03/16/plastik-singkong-dari-bali-yang-mendunia

https://www.merdeka.com/dunia/inovasi-platik-dari-singkong-dari-bali-yang-mendunia.html

http://www.mmindustri.co.id/singkong-jadi-plastik-kemasan-begini-teknologinya/

Sumber Gambar:

(featured image) https://www.mldspot.com

3 COMMENTS

  1. Baru saja saya nonton itu di Youtube udh dijadiin artikel nih sama admin, wkwk,Tapi kenapa pemerintah dan industri tidak segera bergerak untuk memanfaatkan penemuan itu yaa, untuk mengurangi sampah plastik yang buruk saat ini yaa

  2. wahhaha pas banget ya Herry 😀
    betul sekali, seharusnya pemerintah langsung mendukung penemuan ini dan memasarkan di seluruh Indonesia juga. semoga secepatnya pemerintah bergerak cepat untuk mensosialisasikan mengenai plastik ini, apalagi produk ini dihasilkan oleh anak bangsa kita 🙂