Menyingkap Stereotip Siswa IPA vs Mahasiswa STEM yang Paradoks

0
314

Halo Sobat NextGener’s.. Apa kabarnya nih? Kamu tertarik ya dengan judul artikel ini? Ayo kita bahas lebih lanjut!

Siswa IPA

Hard work in laboratory

Pada jenjang sekolah tingkat menengah atas, para siswa diwajibkan untuk memilih jurusan yang mereka minati, diantaranya IPA, IPS ataupun Bahasa. Sangat disayangkan, bahwa masih banyak sekali siswa memilih jurusan bukan berdasarkan minatnya lho! Hal itu disampaikan oleh Perta (2015) terhadap hasil wawancara kepada beberapa siswa SMA yang memilih jurusan berdasarkan dorongan sosial, baik itu keluarga besar hingga orang tua. Enggak sedikit lho masyarakat menilai mata pelajaran jurusan IPA lebih mampu mencerminkan kecerdasan daripada IPS atau Bahasa, walaupun kenyataannya setiap jurusan tentunya bertujuan mengasah pengetahuan, wawasan, dan kecerdasan siswa.

Kasus yang banyak dialami siswa lain adalah melanjutkan estafet cita-cita dan harapan orang tua terhadap anaknya, ditemukan juga kasus lain dimana siswa telah menentukan pilihannya namun dinilai tidak mau memaksimalkan kemampuan di jurusan IPA. Hal ini sangat berdampak terhadap semangat belajar, hasil belajar, hingga pandangan siswa terhadap jurusan yang ditempuhnya.

Mahasiswa Science, Technology, Engineering, Mathematics (STEM)

Sumber: freepik.com

Sama halnya dengan pemilihan jurusan di kuliah yang menjadi akibat dari salah jurusan saat duduk di bangku SMA. Banyak siswa yang gagal dalam hasil belajar, pengaruh rekan sebaya, atau bahkan telah mampu meyakinkan orang tuanya. Hal-hal tersebut menjadi pertimbangan dalam pemilihan jurusan di kuliah. Namun lagi-lagi, pengaruh eksternal akan selalu mengganggu keteguhan hati. Berbeda dengan siswa IPA yang dianggap lebih pintar dibanding siswa jurusan lain. Stereotip mahasiswa STEM cenderung paradoks atau berlawanan dengan siswa IPA yang dianggap lebih pintar. Mahasiswa STEM banyak dinilai tidak punya waktu luang karena belajar melulu, lebih culun, dan kerap disebut pribadi yang tertutup. Padahal semua penilaian bergantung dengan kepribadian mahasiswa itu sendiri. Tak sedikit juga anggapan bahwa karir mahasiswa STEM terbatas akibat banyaknya universitas membuka jurusan STEM.

Namun, taukah kamu bahwa mahasiswa STEM tidaklah berbeda dengan mahasiswa jurusan lain, dari segi penampilan, pergaulan, bahkan pengaturan waktu belajar dan bermain yang tidak ada bedanya. Kuliah berdasarkan minat dan bakat akan mampu meningkatkan semangat belajar, tapi faktor penentu lainnya adalah lingkungan belajar, kelihaian pengajar, bahkan kurikulum yang disiapkan oleh program studi.

Sumber: stem.prasetiyamulya.ac.id

Nah kurikulum STEM Prasetiya Mulya menyediakan gabungan bidang ilmu STEM dan bisnis. Dimana mahasiswa STEM disiapkan menjadi pribadi dengan kemampuan generalistspecialist, kemampuan memahami suatu hal secara umum serta melihat dari berbagai sudut pandang, namun tetap memiliki satu keahlian khusus yang menjadi value individu di dunia kerja nantinya. Mau tau keseruan apa saja yang dilakukan anak STEM Prasetiya Mulya? Ayo ikuti sosial media STEM di instagram dengan username @stemprasetiyamulya !! See you on the next article ..