Memanfaatkan Perubahan Suhu Menjadi Listrik

0
45

Jika selama ini yang NextGeners tahu sebagai sumber energi terbarukan itu umumnya memanfaatkan panas dari matahari atau menggunakan pemanfaatan angin. Namun bagaimana jika energi terbarukan memanfaatkan sebuah fluktuasi suhu untuk menghasilkan listrik? Jawabannya adalah bisa dan penemuan ini dapat memanfaatkan perubahan suhu tanpa tergantung dari matahari maupun angin yang memiliki kekurangan pada saat cuaca tidak stabil.

Penemuan ini dikembangkan oleh sebuah tim dari MIT (Massachusetts Institute of Technology) yang disebut sebagai Resonator Termal. perangkat thermoelectric ini dapat menarik tenaga dan siklus cuaca harian yang fluktuatif. Dengan konsepnya yaitu menghasilkan tenaga saat satu sisi perangkat berada pada suhu yang berbeda dari sisi lain. Proses ini akan menghasilkan daya.

Temuan ini telah memperbarui teknologi sebelumnya yaitu pada generator termoelektrik konvensional yang bekerja dengan mengubah perbedaan suhu menjadi listrik. Sedangkan sistem Resonator Termal ini tidak memerlukan dua input suhu yang berbeda, sebagai penggantinya alat ini menggunakan material khusus yang akan menjamin radiasi panas yang lambat, sehingga suhu di satu sisi perangkat selalu tertinggal dari yang lain. Keuntungan utama lainnya yaitu perangkat tidak perlu terkena sinar matahari langsung.

Michael Strano selaku Profesor Teknik Kimia dari MIT mengungkapkan “kami pada dasarnya menemukan konsep ini di luar konsep yang ada” Ia juga menambahkan “kami telah membangun resonator termal pertama. Ini adalah sesuatu yang bisa duduk di atas meja dan menghasilkan energi dari keadaan yang nampak tidak seperti apa-apa. Kami dikelilingi oleh fluktuasi suhu dari semua frekuensi yang berbeda sepanjang waktu. Ini adalah sumber energi yang belum dimanfaatkan.”

Perangkat ini telah di uji coba dengan ditempatkan di atas atap bangunan MIT selama berbulan-bulan. Penampilan perangkat Resonator Termal tersebut seperti kotak hitam sederhana. Dalam percobaan tersebt, terjadi reaksi terhadap perbedaan suhu 10 derajat Celcius (antara siang dan malam), dan menghasilkan 350 milimeter potensi dan 1,3 miliwatt daya. Energi yang dihasilkan tersebut cukup untuk menghidupi perangkat daya sederhana seperti sensor lingkungan kecil atau sistem komunikasi.

Meski begitu Resonator Termal masih terus dikembangkan, tingkat kekuatannya yang masih minim menunjukkan bahwa perangkat hanya bisa mengisi daya yang tidak memerlukan banyak listrik, seperti sensor jarak jauh. Sehingga untuk saat ini NextGeners masih belum bisa memanfaatkan teknologi untuk menggantikan listrik di rumah seperti solar panel.

Jika NextGeners juga ingin membuat inovasi yang berhubungan dengan pemanfaatan energi terbarukan, maka kita tunggu NextGeners untuk berinovasi di bidang Entrepreneurial Energy Engineering.

Sumber Referensi:

http://technonews.id/alat-pembangkit-tenaga-listrik-memanfaatkan-perubahan-temperatur-udara-kembali-ditemukan/

https://www.priskop.com/teknologi-baru-energi-terbarukan-ini-solusi-untuk-perubahan-cuaca/

http://www.digitalmania.id/resonator-termal-mengubah-suhu-menjadi-listrik/

Sumber Gambar:

http://news.mit.edu

http://google.com