MAKAN BERLEBIHAN BUKAN PENYEBAB OBESITAS, KOK BISA?

0
33

Apa kamu sebelumnya berpikir kalau mereka yang mengalami kegemukan (overweight) atau mencapai obesitas disebabkan karena makan berlebihan? Jika iya, kamu harus baca artikel ini sampai akhir. Betul, setelah sekian tahun pemahaman tersebut tertanam saat ini muncul pemahaman baru akan penyebab obesitas yang disebut dengan carbohydrate-insulin model. Apa itu?

Sebelum kita beralih ke pemain utama kita, penting untuk memahami apa itu obesitas. Penyakit yang menyerang 18 juta orang di Indonesia pada tahun 2020 ini merupakan penyakit tidak menular (PTM) yang merujuk pada kondisi adanya penumpukan lemak yang berlebihan pada beberapa area di dalam tubuh. Penumpukan lemak ini membentuk jaringan adoposa yang tidak berfungsi. Kondisi ini dapat menyebabkan berbagai kompleksitas masalah seperti arteroklerosis, hipertensi, stroke, hingga kematian.

Obesitas Dapat Diderita Mereka yang Terlihat Normal

Sumber: J Clin Invest. 2019;129(10):4022-4031. https://doi.org/10.1172/JCI129191.

Apakah mereka yang bertubuh gemuk saja yang dapat mengalami obesitas?

Jangan salah, mereka yang memiliki ukuran tubuh normal juga dapat menderita obesitas. Kok bisa? Hal ini dikarenakan pembentukan jaringan adiposa dapat terjadi di beberapa bagian. Subcutaneous fat merupakan sebutan untuk lemak yang berada di bawah kulit, sedangkan lemak yang membungkus organ abdomal di dalam tubuh disebut visceral. Namun, dapat juga terjadi akumulasi lemak yang seharusnya tidak ada yang menglingkupi masing-masing organ, lemak ini disebut sebagai ectopic fat.

Mereka yang memiliki ectopic fat memiliki risiko obesitas dan penyakit metabolisme lain yang lebih tinggi dibandingkan mereka dengan visceral fat. Namun, visceral fat yang juga merupakan akumulasi lemak yang berbahaya, sedangkan subcutaneous fat menjadi yang cukup aman atau sehat. Mereka yang memiliki hanya ectopic fat tidak akan terlihat gemuk, namun bahaya obesitasnya tinggi, kondisi ini disebut lipodystrophy. Lalu apa saja yang menyebabkan obesitas?

Carbohydrate-insulin Model: Perspektif Fisiologis Penyebab Obesitas

Melansir salah satu jurnal dari The American Journal of Clinical Nutrition yang berjudul “The Carbohydrate-Insulin Model: A Physiological Perspective on the Obesity Pandemic,” menunjukkan pemahaman pada model carbohydrate-insulin menjelaskan obesitas dan penambahan berat badan dengan lebih baik. Jurnal yang dipublikasikan di tahun 2021 ini juga menunjukkan strategi pengelolaan berat badan yang lebih baik.

Menurut penulis utamanya, Dr. David S. Ludwig yang merupakan ahli Endokrinologi di Boston Children’s Hospital dan Profesor di Harvard Medical School, model kesimbangan energi hanya memahami obesitas secara fisika, namun tidak memahami penyebab biologis kenaikan berat badan. Carbohydrate-insulin model membuat klaim berani dengan menyatakan makan berlebihan bukanlah penyebab utama obesitas.

Model ini menitikberatkan masalah pada konsumsi makanan dengan glikemik tinggi seperti karbohidrat sederhana yang masuk menjadi gula darah. Hal ini karena gula darah yang tinggi akan meningkatkan produksi insulin dan menekan sekresi glukagon. Proses ini akan memberikan sinyal pada sel adiposa untuk menyimpan energi dalam bentuk lemak dan menyisakan sedikit untuk keperluan aktivitas.

Otak merasakan bahwa tubuh tidak mendapatkan energi yang cukup, yang pada gilirannya menyebabkan perasaan lapar. Selain itu, metabolisme dapat melambat dalam upaya tubuh untuk menghemat bahan bakar. Dengan demikian, kita cenderung tetap lapar, bahkan ketika kita terus mendapatkan kelebihan lemak.

Inti dari model terbaru ini adalah adanya usulan untuk memahami penyebab obesitas tidak hanya dari berapa banyak yang kita makan, tapi juga dari bagaimana makanan yang dikonsumsi memengaruhi hormon dan metabolisme kita. Sehingga dengan menganggap semua kalori sama dari berbagai makanan menyebabkan model keseimbangan energi melewatkan bagian penting dari teka-teki ini.

Carbohydrate-insulin model bukanlah ilmu yang seutuhnya baru. Dimulai dari 1900-an, berbagai pakar yang diakui secara internasional di bidang klinis memformulasi model ini. Secara kolektif telah dikembangkan pemahaman melalui bukti yang mengidentifikasi serangkaian hipotesis. Adopsi model ini merupakan langkah radikal bagi pola diet yang telah diterapkan saat ini. Namun, diet keto yang menekan konsumsi karbohidrat menjadi satu aplikasinya.

Tim Peneliti yag dipimpin oleh Dr. David S. Ludwig mengakui perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk menguji kedua model secara meyakinkan dan mungkin untuk menghasilkan model baru yang lebih sesuai dengan bukti. Pada akhir artikelnya, mereka menyerukan wacana konstruktif melalui kolaborasi di antara para ilmuwan dengan sudut pandang yang beragam untuk menguji prediksi dalam penelitian yang ketat dan tidak memihak.

Bagaimana pendapat kamu? Pembentukan pengetahuan merupakan hal yang sangat menarik. Namun, melalui pemahaman baru ini juga membuka peluang bisnis baru. Di program studi Food Business Technology kamu akan belajar banyak mengenai hal baru yang diperkaya dengan sudut pandang bisnis yang dapat kamu gunakan untuk menjadi inovator yang unggul. Yuk simak selengkapnya disini! (Jus)

References

Ludwig, D. S., Aronne, L. J., Astrup, A., de Cabo, R., Cantley, L. C., Friedman, M. I., Heymsfield, S. B., Johnson, J. D., King, J. C., Krauss, R. M., Lieberman, D. E., Taubes, G., Volek, J. S., Westman, E. C., Willett, W. C., Yancy, W. S., & Ebbeling, C. B. (2021). The carbohydrate-insulin model: a physiological perspective on the obesity pandemic. The American Journal of Clinical Nutrition 2021, 1-13. https://doi.org/10.1093/AJCN/NQAB270