Larva Lalat Buah yang Bermetamorfosis Menjadi Makanan

1
139

Apa yang NextGeners bayangkan ketika melihat larva lalat? geli, jijik dan pasti banyak yang tidak suka ketika melihat Larva. Tapi hal ini bukan masalah bagi food tech start-up dari Israel yang bernama Flying Spark untuk membuat inovasi dari larva. Berawal dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, selama bertahun-tahun Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mendesak orang-orang di seluruh dunia untuk memasukkan lebih banyak makanan yang ramah kedalam makanan mereka. Salah satu alternatif yang direkomendasikan PBB adalah serangga, yang menurut mereka sudah dikonsumsi oleh 2 miliar orang di negara berkembang. Tetapi di Amerika Serikat dan negara-negara barat lainnya, tidak begitu banyak.

Flying Spark merupakan salah satu perusahaan yang telah menjawab pertanyaan dari PBB. Serangga yang digunakan adalah larva lalat buah. Eran Gronich, pendiri dan CEO Flying Spark, mengatakan pengembangangan teknologi makanan miliknya telah mengembangkan ekstrak bubuk dan minyak seranga sebagai sumber protein alternatif yang berpotensi menjadi pengganti daging, unggas, dan ikan. Flying Spark  mengubah larva-larva tersebut menjadi sebuah bubuk protein dan minyak yang dapat digunakan untuk membuat roti, pasta, nugget dan sereal.

Larva lalat buah merupakan fase stadium kedua dalam siklus hidup dari Bactrocera, sp (Lalat Buah), larva tersebut  berwarna putih keruh atau putih kekuning-kuningan berbentuk bulat panjang dengan salah satu ujungnya runcing. Larva terdiri atas tiga instar. Lalat buah sendiri merupakan serangga yang memakan sayuran dan buah-buahan.

Larva yang dikembangkan oleh Flying Spark diberi pakan berupa buah dan sayuran cincang, sebelum larva tersebut diproduksi menjadi bubuk dan minyak. Gronich mengatakan protein di dalam serangga begitu bagus dan tidak memiliki hal yang buruk. Larva lalat buah memiliki masa umur yang begitu pendek hanya enam hari, dibandingkan serangga lain dengan umur empat minggu. Larva lalat buah mudah diolah, murah, dan tidak menghasilkan polusi. Para pengembang juga mengatakan bahwa larva lalat buah memiliki kelebihan dibanding serangga lain seperti belalang, jangkrik, atau cacing makanan, karena larva tidak memiliki kaki, sayap, antena atau mata.

Gronich mengatakan Flying Spark adalah satu-satunya yang menggunakan larva lalat buah, Gronich bersama dengan rekannya yang sekaligus menjadi co-founder yaitu Yoram Yerushalmi sudah memutuskan dari awal bahwa Larva Lalat buah begitu ideal. Bubuk tepung larva ini terlihat seperti tepung pada umumnya, mereka tidak akan menjual dalam bentuk asli larva.

Bagaimana NextGeners ulasan inovasi dari larva lalat buah ini? Pasti tidak menyangka ya, tenang saja larva ini pemakan buah dan sayuran, mereka bukan larva yang berada ditempat kotor. Apakah NextGeners punya rencana untuk membuat olahan makanan dari larva ini?

Kita tunggu NextGeners untuk berinovasi di bidang Food Business Technology.

Sumber Referensi:

http://uk.businessinsider.com/flyingspark-food-startup-wants-humans-to-eat-fruit-fly-larvae-2017-10/?IR=T

https://www.fromthegrapevine.com/israeli-kitchen/fruit-fly-larvae-food-Flying-Spark

http://www.jpost.com/HEALTH-SCIENCE/Israeli-start-up-introduces-hot-new-dish-fruit-fly-larvae-meatballs-510957

Sumber Gambar:

(Gambar no.1) https://www.fromthegrapevine.com/israeli-kitchen/fruit-fly-larvae-food-Flying-Spark

(Gambar no.2) https://www.theflyingspark.com/

1 COMMENT