Jejak Perjalanan Augmented Reality Dulu dan Sekarang

0
183

 Augmented Reality (AR) atau Realitas Tertambah adalah teknologi yang menggabungkan benda-benda maya (baik berdimensi dua atau berdimensi tiga) dan benda-benda nyata ke dalam sebuah lingkungan nyata berdimensi tiga, lalu memproyeksikan benda-benda maya tersebut dalam waktu nyata agar terintegrasi dan berjalan secara interaktif dalam dunia nyata.

Tren teknologi Augmented Reality semakin marak di jaman sekarang ini, bahkan salah satu permainan smartphone Pokemon Go berhasil menerapkan teknologi Augmented Reality dalam permainannya dan menjadikan game tersebut meledak di  pasaran dan tren diseluruh dunia berkat teknologi Augmented Reality.

Tapi tahukah NextGeners? Augmented Reality itu memilik perjalanan yang sangat panjang hingga bisa kita rasakan seperti sekarang ini. Pada kesempatan kali ini STEM-Z akan menceritakan kisah perjalanan dari Augmented Reality.

“…Saat kamu memakainya, setiap orang yang kamu temui akan ditandai di dahi mereka dengan huruf yang merepresentasikan karakternya. Yang baik akan ditandai huruf ‘G’, yang jahat ditandai huruf ‘E’, yang bijak ditandai huruf ‘W’, dan yang bodoh ditandai huruf ‘F’,” cetus Demon dengan lantang.”  Kalimat tersebut merupakan ucapan dari karakter bernama Demon yang menjelaskan sebuah konsep kacamata yang disebut character marker di dalam novel berjudul The Master Key:An Electricial Fairy Tale karya L. Frank Baum yang terbit pada tahun 1901.

Siapa sangka dalam novel tersebut diceritakan sebuah konsep Augmented Reality di mana saat seseorang menggunakan kacamata character marker dia akan melihat sebuah tanda di dahi orang lain yang hanya bisa dilihat ketika menggunakan kacamata tersebut , padahal novel tersebut rilis 100 tahun yang lalu.

Pada tahun 1957, Seorang laki-laki yang dikenal dengan nama Morton Helig mulai membangun sebuah mesin bernama Sensorama, mesin ini memberikan pengalaman sinematis pada seluruh indra pengguna, Mesin ini berbentuk seperti mesin arkade tahun   80an, Mesin ini dapat menyemburkan angin pada pengguna, menggetarkan kursi yang   anda duduki, memainkan suara dan memproyeksikan lingkungan di depan dan sisi kepala  pengguna dalam sebuah bentuk stereoscopic 3D. Mesin ini sangat mengesankan dengan  demo film perjalanan disekitar Brooklyn, New York tetapi mesin ini tidak di jual secara  komersial dan sangat mahal membuat film tersebut untuk kalangan luas karena mengharuskan Kameramen membawa tiga kamera sekaligus, walaupun mesin ini lebih  terlihat sebagai Virtual  Reality tetapi sangat jelas terlihat ada elemen Augmented Reality yang terlibat, dengan dua perangkat yang berada diantara pengguna dan lingkungan dan  fakta bahwa lingkungan itu adalah lingkungan itu sendiri,Dunia nyata yang dilihat dalam situasi realtime –bahkan jika direkam.
seorang ilmuwan komputer bernama Ivan Sutherland lulusan dari MIT (Massachusetts Institute of Technology) dan juga menjabat sebagai associate Professor of Electrical Engineering di Harvard University bersama dengan muridnya Bob Sproull ,mengembangkan HMD (Head-Mounted Display) pertama yang ditampilkan pada tahun 1968. HMD merupakan salah satu perangkat yang paling penting dalam AR maupun VR, Sistem dari HMD tersebut menggunakan pencitraan hasil komputer untuk menampilkan gambar wireframe yang sederhana. Alat tersebut bernama The Sword of Democles. Walaupun alat tersebut berat karena terdapat binocular display dan head tracking.

Pada pertengahan tahun 1970-an, Myron Krueger mendirikan sebuah laboratorium realitas buatan yang disebut dengan videoplace. Idenya dengan videoplace adalah meciptakan sebuah realitas tambahan yang mengelilingi penggunanya, dan merespon gerakan dan tindakan mereka, tanpa dibebani dengan penggunaan kacamata atau sarung tangan. Videoplace menggunakan proyektor, kamera video, perangkat keras khusus, dan siluet layar pengguna untuk menempatkan pengguna dalam sebuah lingkungan yang interaktif.

Walau AR sudah ada cukup lama dan dalam bentuk yang berbeda-beda, Ungkapan Augmented Reality seharusnya sudah tercipta oleh Professor Tom Caudell  ketika ia bekerja di Boeing’s Computer Service’s Adaptive Neural Systems Research and Development Project di Seattle.

Dalam pencariannya untuk membantu memudahkan proses manufaktur dan rekayasa, perusahaan penerbangan itu ia mulai mengaplikasikan teknologi Virtual Reality yang akhirnya melahirkan beberapa software complex yang dapat menentukan posisi setiap  kabel pada saat proses manufaktur. Ini artinya mekanik tidak harus bertanya atau mencoba mengartikan apa yang Ia temukan di diagram manual.

Pada saat yang bersamaan di tahun 1992, dua tim yang lain membuat langkah besar menuju dunia yang baru ini. LB. Rosenberg menciptakan apa yang dikenal sebagai sistem  AR pertama yang dapat berfungsi untuk Angkatan Udara Amerika Serikat yang dikenal  sebagai Virtual Fixtures, mesin ini berguna untuk memberi isyarat pada penggunanya sehingga memudahkan pekerjaannya.

Tim kedua yang terdiri dari Steven Feiner,Blair Maclntyre dan Doree Seligman yang semuanya sekarang memimpin dibidang AR, menyerahkan hasil penelitian mereka  tentang sistem yang mereka sebut KARMA (Knowledge-based Augmented Reality for Maintenance Assistance).

 Tim dari Kolombia membuat HMD dengan tracker buatan Logitech. Project ini adalah untuk Mengembangkan grafis 3D dari Gambar untuk menunjukan bagai mana memuat dan memperbaiki sebuah mesin tanpa harus mengacu pada pentujuk. Hasil penelitian ini cukup  baik dan banyak dikutip di komunitas sains Untuk membuktikan bahwa AR bukan hanya  untuk pekerjaan saja, AR memasuki dunia Seni pada tahun 1994, Julie Martin menjadi orang yang pertama membawa konsep ini ke dunia publik. Dia menciptakan sebuah Pameran yang di danai oleh pemerintah di Australia. Acara ini berjudul “Dancing in Cyberspace”di mana penari dan akrobator berinterkasi dengan objek virtual yang di proyeksikan pada ruang yang sama.

Sampai pada tahun 1999 AR tetap menjadi mainan para peneliti. Alat yang berat mahal dan software yang rumit menyebabkan konsumen tidak pernah bahkan tidak tahu dimana tempat teknologi ini tumbuh. Sejauh ini yang dikhawatirkan adalah explorasi kedalam dunia virtual akan mati.

Semua itu berubah ketika Hirokazu Kato yang berasal dari Nara Institute of Science and Technology merilis ARToolKit ke komunitas Open Source. Untuk pertamakalinnya, alat ini   memungkinkan untuk Video Capture Tracking dari dunia nyata untuk berkombinasi  dengan interaksi pada objek virtual dan memberikan grafis 3D yang dapat digunakan di berbagai platform sistem operasi. Walaupun ponsel pintar pada saat itu belum di temukan, alat ini yang memungkinkan sebuah perangkat handheld sederhana yang memiliki kamera dan  koneksi internet untuk menghasilkan hampir semua AR yang berbasih flash yang dilihat  melalui web browser dapat menjadi mungkin dengan ARToolkit.

Di tahun 2000 Bruce Thomas dan timnya Wearable Computer Lab di University of South Australia mendemonstrasikan outdoor mobile Augmented Reality dengan nama ARQuake, ARQuake adalah game Quake yang menggunakan lingkungan dunia nyata sebagai  tempatnya dan objek virtual sebagai musuhnya, alat ini terdiri dari komputer gendong,gyroscope,GPS sensor, dan Head Mounted Display. Alat ini masih dikembangkan dan belum akan dikomersialkan.

Tahun 2008 AR dapat digunakan pada ponsel pintar walau belum mendekati dengan apa yang seharusnya. Mobilizy adalah salah satu pionir dengan aplikasinya yang bernama Wikitude pada ponsel yang berbasih android pengguna dapat melihat melalui kamera ponsel mereka augmentasi dari daerah dimana kamera itu di arahkan Wikitude kemudian mensupport platform  iPhone  dan  Symbian juga  meluncurkan aplikasi  navigasi yang menggunakan AR aplikasi ini bernama Wikitude Drive. Setelah ARToolkit diporting  ke Adobe Flash, AR akhirnya dapat dipakai melalui desktop browser atau bahkan webcam, hingga kini AR sudah dapat kita nikmati penggunaannya, baik dalam permainan, properti, kesehatan dsb.

Teknologi Augmented Reality tidak lepas dengan salah satu teknologi Virtual Reallity, namun NextGeners sendiri apakah tahu apa itu perbedaan antara Augmented Reality dan Virtual Reality? Secara garis besar adalah jika AR menciptakan konten virtual atau khayalan di dunia nyata sedangkan VR adalah proses penghapusan dunia nyata di sekeliling kamu untuk kemudian digiring ke dunia virtual yang baru. Jadi Virtual Reality akan memberi pengalaman baru bagi user untuk merasakan ke dunia virtual, tanpa ada tampilan dunia nyata.

Apakah NextGeners penasaran dengan perjalanan dari Virtual Reality?

Nantikan episode selanjutnya yang akan membahas mendalam mengenai  Virtual Reality.

Sumber Referensi

https://hbr.org/2016/10/the-mainstreaming-of-augmented-reality-a-brief-history

http://initu.id/sejarah-teknologi-virtual-reality-vr-dan-augmented-reality-ar/

https://tirto.id/proyek-tango-google-dan-perlombaan-teknologi-masa-depan-crYr

https://dokumensaya.com/download/makalah-augmented-reality-1_5974aaf2dc0d608916ca2987_pdf

http://www.augment.com/blog/infographic-lengthy-history-augmented-reality/

(Featured Image) http://www.iamwire.com