Inspirasi Inovasi Melukis (Q&A with Ratna Sukma Dewi)

2
121

Hallo NextGeners, pada kesempatan kali ini STEM-Z berkesempatan mengadakan wawancara dengan salah satu NextGeners yang memiliki bakat melukis yaitu Ni Putu Ratna Sukma Dewi. Simak hasil wawancara STEM-Z dengan Nana berikut ini yang penuh dengan inspirasi dan inovasi.

Sejak kapan Nana belajar melukis?

Keluarga saya kan memang kebanyakan pelukis, jadi memang dari saya kecil sudah sering lihat anggota keluarga yang melukis atau menggambar. Lalu kemudian lama-kelamaan saya belajar sendiri juga.

Waktu Nana kecil, sukanya menggambar apa?

Ya biasalah namanya anak kecil kan paling suka menggambar pemandangan kayak gunung, sawah. Tapi ketika SD mulai diajarin di sekolah untuk menggambar hewan-hewan seperti angsa, dan lain-lain. Bisa dibilang mulai belajar menggambar yang serius gitu lah.

Kalau belajar melukis dengan menggunakan media kanvas dan cat kapan Nana mulai belajarnya?

Kalau melukis pakai cat air itu dari SMP, tapi biasanya menggambarnya di atas kertas menggambar biasa. Jujur saja, saat lomba tempo hari itu baru saya ngerasain menggambar di atas kanvas.

Oh, jadi kemarin itu benar-benar pengalaman pertama banget menggambar di kanvas ya, Na?

Enggak sih, kemarin itu kedua kalinya lah, tapi yang pertama banget pakai kanvas itu waktu kelas 1 SMA jadi saya sudah lupa seperti apa rasanya menggambar di atas kanvas.

Meskipun faktor lingkungan terdekat seperti keluarga bisa memancing minat dan bakat seseorang, terutama di dalam dunia seni, tapi apakah ada hal-hal lain yang membuat Nana suka menggambar atau melukis?

Bagi saya, melukis atau menggambar ya terutama, itu kan bentuk seni yang paling sederhana. Saya nggak perlu beli barang-barang atau peralatan yang aneh-aneh dan mahal-mahal untuk bisa menggambar. Hanya bermodalkan pensil dan kertas saja saya sudah bisa menuangkan ide-ide untuk menggambar.

Dari sekian banyak media yang bisa digunakan untuk menggambar seperti kanvas atau bahkan sekarang dengan smartphone pun bisa menggambar dengan menggunakan aplikasi-aplikasi tertentu. Nana lebih suka menggambar dengan media apa?

Sebetulnya sih saya tetap paling suka menggambar dengan pensil di atas kertas. Tapi karena sekarang jaman semakin canggih dan karena di SISO (STEM Prasetiya Mulya Innovation Student Organization, organisasi kemahasiswaan yang ada di School of Applied STEM Universitas Prasetiya Mulya -red.) saya mengambil desain, makanya mulai belajar menggambar secara digital juga.

Biasanya apa saja yang menjadi inspirasi Nana untuk menggambar atau melukis?

Kalau dulu waktu kecil sih suka meniru lukisan-lukisan yang dihasilkan sama keluarga dan di rumah juga kan banyak banget lukisan. Tapi semakin besar saya mulai cari-cari inspirasi dari tempat lain. Misalnya saya mesti menggambar tentang teknologi, ya saya banyak cari referensi bagaimana seharusnya menggambar tentang teknologi. Atau saya banyak juga terpengaruh sama budaya Jepang yang awalnya saya kenal dari komik-komik yang saya baca.

Kami kan sempat lihat hasil tulisan Nana di website Nextgen yang membahas tentang lukisan. Di situ Nana kasih lihat ada lukisan yang dibuat oleh kakeknya Nana, dan satu lukisan lagi yang Nana buat sendiri. Terus belakangan Nana pernah kasih lukisan untuk STEM. Tiga-tiganya lukisan itu bernuansa Bali dan monokrom alias hitam putih. Nana sendiri memang suka melukis dengan nuansa monokrom ya?

Iya, soalnya bagi saya melukis dengan nuansa monokrom seperti itu lebih mudah dikerjakan. Saya hanya cukup membayangkan dimana bayangannya kira-kira akan jatuh, enggak perlu memikirkan harus dikasih warna apa. Coba saja melukis orang utuh dari kepala sampai kaki, kalau berwarna tentu akan lebih sulit misalnya memberi warna kulit. Dibilang warna krem enggak, coklat juga enggak coklat-coklat amat. Mencampur warnanya tentu lebih kompleks dibandingkan dengan lukisan hitam putih saja. Meskipun kalau berhasil ya tentu lebih bagus kalau yang berwarna, tapi saya kurang mahir mencampur warna.

Kalau dari hobi Nana dan juga dari keluarga yang memang berkecimpung di dunia seni, susah enggak mengimbangi antara seni dengan matematika yang sekarang menjadi fokus belajarnya Nana? Berhubung kan sekarang Nana kuliah di prodi Business Mathematics yang sebetulnya dunianya agak bertolak belakang dengan dunia seni.

Kalau buat saya sebetulnya dua hal itu sangat berkesinambungan, dalam artian seni itu memang sudah mengalir dalam darah saya, jadi saya memang suka melukis. Meskipun dulu saya sempat ragu mau mengambil jurusan apa saat kuliah, tapi saya putuskan untuk tetap mengambil Matematika sebagai bidang keilmuan yang ingin saya pelajari.

Kalau seni lukis atau gambar kan bisa tetap saya salurkan sebagai hobi, yang saya rasa bisa tetap saya jalani tanpa harus mengenyam pendidikan formal di bidang itu. Jadi dikala saya suntuk atau mulai bosan belajar sains, terutama matematika, ya saya cukup menggambar saja untuk pelampiasan rasa bosannya.

Sekarang beralih mengenai kompetisi melukis yang diadakan oleh SGU (Swiss-German University –red.) nih, Na. Awalnya Nana tahu dari mana sih mengenai kompetisi itu?

Saya tahu info ada kompetisi itu dari Bagian Kemahasiswaan STEM yang sharing infonya melalui grup obrolan yang dibuat memang untuk menginformasikan kegiatan-kegiatan di School. Di situ ada pengumuman bahwa SGU mengadakan kompetisi melukis, kemudian saya daftar.

Berapa lama prosesnya sejak Nana mengetahui info kompetisi melukis yang dibagikan oleh Bagian Kemahasiswaan STEM sampai akhirnya mendaftar dan tiba hari-H pelaksanaan kompetisi?

Seminggu lebih mungkin ya. Setelah saya tahu info kompetisi itu dari grup obrolan, saya enggak langsung mendaftar. Saya sempat buka dulu tautan yang disediakan sekedar untuk mencari info lebih mengenai kompetisinya. Saya juga sempat mengecek akun Instagram-nya. Terus malah sempat enggak ingin ikut karena saya enggak yakin bisa menggambar di atas kanvas.

Bagaimana akhirnya Nana bisa yakin untuk go ahead dan mendaftar?

Saya yakin karena waktu itu saya tahu ada teman sesama mahasiswa STEM yang ikutan kompetisi ini juga. Dan kami jadi saling kasih semangat, makanya saya jadi deh ikut mendaftar.

Ada persiapan khusus enggak untuk menghadapi kompetisinya?

Enggak ada kok. Hemm… Paling persiapannya cuma latihan aja sedikit-sedikit supaya bisa mempresentasikan tema kompetisinya ke dalam bentuk lukisan supaya jadi bagus. Dan bahkan sempat diskusi juga dengan Pak Eka (Dr. Eka Ardianto, Wakil Dekan III STEM Prasetiya Mulya –red.) karena saya bingung mau melukis apa. Setelah diskusi akhirnya dapat lah ide untuk melukis wajah cewek tapi ada unsur-unsur teknologinya.

Jadi penasaran nih sama apa yang digambar Nana…

Saya melukis wajah cewek yang rambut-rambutnya ada pohonnya, lalu ada kabel data. Makna kabel datanya itu sih karena saat ini seolah-olah manusia enggak bisa hidup tanpa gadget. Saking kebutuhannya akan gadget sangat-sangat meningkat. Padahal yang sebenarnya manusia itu lebih butuh oksigen yang diproduksi oleh pepohonan. Tapi seolah-olah manusia jadi lebih peduli sama teknologi daripada sama lingkungan.

Keren juga yah imajinasinya Nana…

Saya terinspirasi sama lukisannya Miho Hirano. Dia itu pelukis dari Jepang. Beberapa lukisan Hirano adalah gambar perempuan yang rambutnya dihiasi bunga-bungaan. Tapi karena tema kompetisi melukis ini adalah tentang teknologi, makanya gambarnya saya adaptasi dan saya ubah menjadi gambar pepohonan dan kabel data.

Secara total waktu saat kompetisi diselenggarakan, berapa lama waktu yang Nana butuhkan untuk menyelesaikan lukisan Nana?

Totalnya sekitar 5-6 jam dari total waktu yang diberikan selama 9 jam.

Bagaimana perasaan Nana setelah lukisannya selesai?

Jujur, capek sih. Soalnya lama banget selesainya, hahahaa…

Hahahaaa… Tapi ada kepuasan lah ya bahwa akhirnya lukisannya selesai?

Enggak juga sih, saya malah merasa hasil lukisan saya itu kurang maksimal. Terutama di bagian rambutnya, menurut saya masih kaku banget. Harusnya saya lebih banyak latihan supaya lukisannya bisa lebih luwes dan natural.

Apakah Nana sempat lihat-lihat pameran lukisan yang diadakan di Living World (salah satu pusat perbelanjaan di Alam Sutera, Serpong –red.) setelah penyelenggaraan kompetisinya?

Iya, saya sempat datang ke Living World untuk lihat pamerannya.

Sebelumnya apakah Nana punya hasil karya yang dipamerkan untuk publik?

Belum pernah. Ini pertama kalinya hasil karya saya dipajang dan dilihat publik.

Bagaimana perasaan Nana melihat hasil lukisan Nana dipajang, dilihat, dan dinilai banyak orang? Karena kan ternyata baru pertama kalinya ya..

Sempat terpikir bahwa hasil lukisan saya ini kurang maksimal dan belum pantas untuk dipajang di sana. Dan karena memang saya sendiri merasa hasil lukisannya belum bagus. Jadi ya memang agak minder gitu.

Apakah Nana hadir di tempat ketika pengumuman hasil kompetisinya diumumkan?

Iya, saya ada di sana ketika pemenang kompetisinya diumumkan. Tapi sayangnya belum berhasil jadi juara.

Bagaimana perasaan Nana saat tahu kalau Nana belum berhasil jadi juaranya?

Enggak apa-apa sih, saya tahu kalau lukisan saya itu belum maksimal. Dan lagi pemenang kompetisinya memang berhak karena lukisannya bagus banget. Pantas lah kalau dia jadi juara.

Nana sempat lihat lukisan pemenangnya?

Saya malah sempat kenalan sama orangnya. Namanya Silvia, dia mahasiswa semester 5 jurusan Desain Komunikasi Visual di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung.

Berarti yang tadi Nana deskripsikan tentang lukisan Nana untuk kompetisi di SGU yang akhirnya diberikan untuk STEM Prasetiya Mulya kan beda nih. Yang diberikan untuk STEM Prasetiya Mulya ini bikin lagi ya?

Jadi lukisan yang saya bikin waktu kompetisi itu saya timpa dengan cat putih semua dan saya bikin lukisan lain.

Kenapa lukisannya diganti, Na? Padahal kan kita pengen lihat hasil lukisan Nana lho..

Saya enggak pede sama lukisan yang saya buat di kompetisi. Hasilnya ga memuaskan. Malu kalau nanti setiap lewat di kantor Sekretariat STEM jadi lihat lukisan itu lagi dan bahkan kalau dilihat banyak orang.

Padahal enggak apa-apa lho.. Yang namanya seni kan enggak ada tolak ukur yang paten mengenai sebuah karya itu bagus atau enggak. Semua tergantung dari cara pandang masing-masing penikmatnya.

Iya sih, tapi saya tetap enggak pede. Masih harus banyak belajar lagi..

Apa yang kemudian bisa Nana pelajari dari semua rangkaian proses kompetisi ini?

Pertama sekali yang bisa saya pelajari adalah bagaimana saya bisa mengatur waktu disela kesibukan yang lain untuk tetap berlatih. Karena kompetisi itu kan tepat setelah UTS di kampus, jadi saya waktu itu terlalu fokus mempersiapkan diri menghadapi UTS, dan persiapan kompetisinya jadi agak terbengkalai karena enggak pintar atur waktunya kapan harus belajar dan kapan harus latihan.

Selain itu saya juga belajar untuk lebih berlapang dada ketika belum berhasil mencapai apa yang saya inginkan, yaitu menjadi pemenang dalam kompetisi. Tapi memang saya akui kalau pemenangnya sangat berhak karena memang hasil lukisannya layak dijadikan juara.

Dan berkat kompetisi itu pula saya jadi bisa lebih dekan dengan Winny. Meskipun beda prodi tapi ternyata kami punya minat yang sama.

Menurut Nana, apakah hobi Nana menggambar bisa membantu Nana dari segi akademis?

Iya dong, karena saya menggambar saat saya bosan sama rutinitas belajar. Menggambar kan enggak perlu repot, yang penting ada kertas dan pensil sudah bisa menggambar. Biasanya di sela belajar, cukup 30 menit untuk menggambar saja sudah cukup untuk mengembalikan mood supaya lebih semangat belajar.

Kalau ke depannya ada kompetisi lagi yang waktunya berbenturan dengan jadwal UTS seperti kompetisi yang kemarin ini atau bahkan UAS, apakah Nana akan memprioritaskan salah satunya dulu atau Nana merasa bisa berjalan bersamaan?

Kayaknya sih harus belajar atur waktu supaya bisa dijalankan bersamaan. Tapi pastinya saya memang utamakan belajar dulu. Untuk latihan menggambar atau melukisnya mungkin ditargetkan saja dalam satu hari ada 1-2 jam yang dipakai untuk latihan.

Tapi tentunya Nana akan ikut kompetisi lagi dong?

Kalau kompetisinya melukis pakai kanvas kayaknya enggak dulu deh. Saya ingin belajar tekniknya dulu agar bisa jadi jauh lebih baik.

Terakhir nih Na, ada pesan-pesan apa untuk NextGeners?

Pesannya cuma 1, meskipun misalnya minat kamu bertolak belakang seperti saya ini, dilakukan saja keduanya. Saya suka sekali menggambar, dan saya juga senang belajar matematika. Jadi meskipun saya memilih untuk sekolah di bidang matematika, saya enggak lantas meninggalkan hobi menggambar saya. Malah saya tertarik untuk mencoba hal baru di dunia seni ini dengan misalnya saja saya baru 2 minggu belakangan ini mengunduh aplikasi Photoshop untuk belajar photo editing dan mencari teman yang sekiranya punya hobi yang sama biar bisa belajar sama-sama. Jadi selain dapat ilmu juga bisa mengakrabkan diri dan menghabiskan waktu sama teman-teman dengan hal-hal yang positif.

(Hasil Lukisan Ni Putu Ratna Sukma Dewi)

2 COMMENTS