From Emergency into Food Innovation

0
312

*image source: http://firefightersforgood.org/

 

Isu darurat  adalah bagian yang memang tidak bisa kita hindari. Ungkapan umum yang biasa kita layangkan adalah bagaimana mempersiapkan diri saat keadaan darurat, keluarga kita selamat dan sehat. Lalu apa yang bisa kita lakukan jika kondisi darurat ini terjadi secara global dan menyeluruh? Solusi apa yang bisa membantu saat darurat ini terjadi?

Inovasi pangan darurat adalah bagian dari solusi yang bisa kita sajikan. Apa yang dimaksud dengan pangan darurat? Pangan darurat adalah produk pangan yang dibuat untuk kondisi khusus dan dikonsumsi pada situasi yang sifatnya darurat seperti saat bencana alam, daerah rawan kelaparan, peperangan dan situasi darurat lainnya yang menyebabkan orang hidup dalam keadaan tidak normal.

Karakter produk pangan yang dibutuhkan dalam kondisi ini adalah harus tahan lama atau masa simpan yang panjang, siap saji, memenuhi asupan energi harian, aman dikonsumsi, produk makanan tersebut mudah dikonsumsi , mudah didistribusikan, memiliki kandungan nutrisi yang lengkap selain aspek rasa, warna, dan aroma dari produk pangan tersebut yang bisa diterima oleh semua kalangan selain itu kemasan produk pangan menjadi salah satu pertimbangan untuk melindungi produk pangan darurat tersebut.

Produk pangan yang mempunyai masa simpan panjang memang dominan terdapat pada produk yang kering. Beberapa produk pangan berikut mempunya masa simpan lebih dari 2 tahun jika disimpan dalam kondisi yang bagus seperti gula, garam, gandum, kacang merah, kacang hijau, kedelai dan beberapa jenis kacang-kacang lainnya.

Sejatinya Indonesia kaya dengan potensi pangan lokal, seorang food technologist bisa mempunyai kesempatan yang besar untuk berinovasi memanfaatkan sumber pangan lokal untuk menciptakan berbagai macam produk pangan darurat dengan berbagai pilihan dan varian produk dengan berbagai modifikasi proses sehingga lebih bisa memberdayakan potensi ekonomi lokal.

Kita bisa memodifikasi dan mengembangakan beberapa produk pangan lokal yang banyak ditemui seperti dodol, kue kering tradisional (kue sagu, kue satu, dan lain-lain) yang memang produk-produk tersebut mempunyai sumber karbohidrat tinggi dengan memfortifikasi dan menambahkan sumber protein dan lemak atau beberapa vitamin dan mineral lainnya, sehingga dengan mengkonsumsi produk tersebut bisa memenuhi kebutuhan kalori harian pada umumnya (semisal 2100 kalori).

Keinginan dan ketergantungan masyarakan Indonesia untuk mengkonsumsi nasi dan lauk pauknya menjadi tantangan dan peluang bagi seorang food technologist, teknologi pengalengan bisa menjadi alternatif proses untuk menyajikan menu nasi lengkap ini sebagai pilihan pangan darurat ataupun kita bisa mengembangkan pangan fungsional sebagai pangan darurat seperti produk makanan karbohidrat dan protein tinggi yang mengandung zat aktif untuk meningkatkan kekebalan tubuh.

Adakah yang tertantang untuk berinovasi menciptakan pangan darurat?

*artikel dari Program Studi S1 Food Business Technology STEM Prasetiya Mulya untuk Indonesia lebih sejahtera