Dari Gulma Air Menjadi Biogas

0
99

NextGeners yang suka melihat empang, rawa, danau, maupun waduk pasti suka melihat jenis tanaman air eceng gondok, tanaman yang memiliki nama latin Eichornia crassipes ini hidup mengapung di air dan terkadang berakar dalam tanah. Salah satu jenis tanaman air yang mengapung ini memiliki tinggi sekitar 0,4 – 0,8 meter, tidak mempunyai batang, daunnya tunggal berbentuk oval, dan pungkai daun mengelembung. Tumbuhan eceng gondok ini mampu beradaptasi dengan perubahan yang ekstrem dari ketinggian air, arus air, perubahan ketersediaan nutrien, pH, temperatur, dan racun-ra cun dalam air. Akibat dari kemampuan beradaptasi eceng gondok yang baik eceng gondok sangat mudah untuk berkembang biak.

Pertumbuhan yang tinggi dari eceng gondok menyebabkan dampak yang tidak baik pada perairan seperti meningkatnya evapotranspirasi (penguapan dan hilangnya air melalui daun-daun tanaman) karena daun yang lebar, menurunnya jumlah cahaya yang masuk kedalam perairan yang menyebabkan menurunnya tingkat kelarutan oksigen dalam air, tumbuhan eceng gondok yang sudah mati akan turun ke dasar air sehingga mempercepat terjadinya proses pendangkalan. Efek buruk dari eceng gondok tersebut yang menyebabkan menjadi gulma air.

Tapi tahukah NextGeners ternyata eceng gondok memiliki fungsi yang berguna juga salah satunya adalah sebagai biogas,  biogas merupakan energi alternatif terbarukan yang ramah lingkungan. Biogas adalah gas yang dihasilkan dari proses penguraian bahan-bahan organik oleh mikroorganisme pada kondisi langka oksigen (anaerob). Komponen dari biogas antara lain: ± 60 % CH4(metana), ± 38 % CO2(karbon dioksida) dan ± 2 % N2, O2, H2, dan H2S.

Lalu apa yang menyebabkan eceng gondok dapat dimanfaatkan menjadi biogas? Eceng gondok dimanfaatkan sebagai biogas dikarenakan memiliki kandungan 43% hemiselulosa dan selulosa sebesar 17%. Hemiselulosa akan dihidrolisis menjadi glukosa oleh bakteri melalui proses anaerobic digestion, yang akan menghasilkan gas metan (CH4) dan karbondioksida (CO2 )sebagai biogas.

Banyak warga yang sudah menerapkan energi biogas, seperti yang dilakukan oleh warga di desa Kertasari, kecamatan Rengasdengklok, Karawang. Warga mengaku biogas dari eceng gondok ini lebih hemat ketimbang elpiji. Api yang dihasilkan dari biogas ini sama besarnya dengan elpiji dan bisa digunakan untuk keperluan memasak.

Manfaat dari energi biogas adalah sebagai bahan pengganti bahan bakar khususnya minyak tanah dan dipergunakan untuk memasak kemudian sebagai bahan pengganti bahan bakar, dalam skala besar energi biogas dapat digunakan sebagai pembangkit listrik juga. Selain menghasilkan energi biogas ternyata hasil fermentasi proses biogas dari eceng gondok tersebut memiliki manfaat lainnya, yaitu substrat dari eceng gondok dapat digunakan untuk menjadi pupuk tanaman. Ternyata tanaman eceng gondok sangat memiliki nilai ekonomis dan peluang bisnis.

Bagaimana NextGeners jika melihat eceng gondok ini apa akan mencoba untuk membuat energi biogas dari tanaman air mengapung ini? Atau ingin mencoba dengan yang lainnya.

Kita tunggu NextGeners untuk berinovasi di bidang Entrepreneurial Energy Engineering.

Sumber Referensi:

http://dplh.sulselprov.go.id/index.php/tentang-kami/2-sekretariat/42-eceng-gondok

http://tekno.liputan6.com/read/264656/menyulap-eceng-gondok-jadi-biogas

http://www.biru.or.id/index.php/news/2017/09/12/310/eceng-gondok-menjadi-biogas.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Eceng_gondok

Sumber Gambar:

(Gambar no.1) http://manado.tribunnews.com/

(Gambar no.2) http://www.takamotobiogas.com/biogas/how-biogas-works/

(Featured Image) http://www.tripriau.com