Cottonseed oil: Minyak dari biji kapas

0
103

Hai Nextgeners! Apakah kamu pernah mendengar mengenai minyak biji kapas? Mungkin minyak jenis ini masih kurang familiar, namun ternyata sudah ada banyak brand makanan dari luar negeri yang menggunakan minyak biji kapas tersebut sebagai salah satu bahan dapurnya, seperti KFC, Burger King, Pringles hingga Wendy’s. 

Seperti namanya, minyak ini berasal dari biji tumbuhan kapas (Gossypium sp.). Berasal dari tumbuhan kapas, mungkin kurang lazim apabila dijadikan bahan pangan karena kapas umumnya digunakan sebagai bahan tekstil. Namun by-product dari kapas ini ternyata dapat dipakai untuk produk pangan loh!

Komposisi dan Manfaat

Komposisi kimia dari minyak biji kapas ini didominasi oleh komponen asam lemak tak jenuhyang sebagian besar terdiri dari asam linoleat. Asam linoleat ini sangat baik untuk dikonsumsi karena dapat menurunkan LDL  (Low Density Lipoprotein) atau kolesterol jahat serta meningkatkan HDL (High Density Lipoprotein) atau kolesterol baik. Hal ini dapat meningkatkan tekanan darah dan mengurangi resiko penyakit jantung dan stroke.

Selain asam lemak tak jenuh, salah satu kandungan yang sangat bermanfaat pada minyak biji kapas adalah tokoferol, yaitu antioksidan alami yang dapat mencegah autooksidasi minyak tersebut. Adanya tokoferol ini dapat meningkatkan fungsi vitamin E serta dapat mencegah ketengikan sehingga meningkatkan masa simpan minyak tersebut. 

Selain itu, ternyata minyak biji kapas memiliki manfaat untuk kesehatan, kulit dan pertumbuhan rambut. Minyak biji kapas dapat menekan sel kanker serta mencegah pertumbuhan tumor. Kandungan vitamin E yang cukup tinggi di dalam minyak biji kapas yang merupakan sumber antioksidan alami dapat membantu kulit dalam memerangi radikal bebas.

Minyak biji kapas juga kaya akan asam lemak esensial yang dibutuhkan oleh kulit. Asam lemakbanyak ditemukan dalam kandungan skincare alami dan kosmetik, karena sangat dibutuhkan untuk melembabkan kulit, dan meningkatkan permeabilitas kulit. Sama halnya dengan minyak zaitun, minyak biji kapas juga dapat meningkatkan kesehatan rambut dan berperan untuk melembabkan rambut, mencegah kehilangan protein dan melindungi dari kerusakan lingkungan.

Baca juga: Ciptakan Alat Smart Micro Biodiesel Reactor , Mahasiswa STEM Prasmul Ini Ubah Minyak Jelantah Jadi Berkah

Namun, ada kandungan kimia yang cukup berbahaya yang terkandung dalam bahan baku minyak biji kapas, yaitu gosipol. Gosipol merupakan senyawa yang bersifat toksik dan dapat terikat dengan amino bebas atau gugus karboksil bebas dari protein pada biji kapas. Pengikatan gosipol ini mampu menurunkan nilai gizi protein, lisin dan asam amino esensial. Namun tentu saja dalam proses pembuatan minyak biji kapas, dilakukan tahapan pemurnian untuk menghilangkan kandungan gosipol.

Pasca-panen, Penanganan dan Penyimpanan Biji Kapas

Sebelum dikonsumsi, minyak biji kapas melalui beberapa tahap pemrosesan mulai dari panen hingga diolah menjadi minyak biji kapas. Proses pembuatan minyak biji kapas dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Proses Pembuatan Minyak Biji Kapas

Tahap yang pertama adalah proses pemetikan kapas dari pohonnya. Waktu pemetikan menjadi faktor penting loh untuk menjaga kualitas benih, biasanya kapas dipanen dalam jangka waktu 5 sampai 6 bulan setelah ditanam, atau ketika buah kapas telah merekah dengan sempurna. Cuaca lembab setelah pematangan dapat merusak fisik serta kualitas dan kesehatan fisiologis benih kapas, jadi disarankan untuk memanen kapas pada jam 11 sampai 12 siang saat terik matahari. 

Tahap berikutnya adalah proses ginning yaitu proses memisahkan serat dari biji kapas, proses ini dilakukan secara mekanis yaitu menggunakan mesin ginning. Selanjutnya adalah proses delinting, tahap sebelumnya hanya menghilangkan serat tapi tidak bulu halus dari biji, oleh sebab itu proses ini bertujuan untuk menghilangkan bulu halus, karena bulu halus dapat mengembalikan kelembaban dari udara sehingga mudah terinfeksi oleh mikroorganisme seperti jamur. 

Proses ini dilakukan secara kimiawi dilakukan dengan membakar bulu halus menggunakan asam sulfat. Tahap kelima adalah ekstraksi, proses ini dapat dilakukan dengan beberapa metode baik secara mekanis (penghancuran atau pengepresan) dan kimiawi. Namun umumnya, untuk metode kimiawi digunakan pelarut dan pelarut yang sering digunakan adalah senyawa heksana atau campuran heksana dengan metanol. 

Tahap berikutnya adalah drying atau pengeringan, proses ini bertujuan untuk mengurangi kadar air pada biji kapas serta mencegah pertumbuhan serangga dan jamur yang dapat menyebabkan pembusukan pada biji kapas. Proses ini dilakukan dengan dua metode yaitu konvensional yaitu menggunakan terik sinar matahari dan modern yaitu penempatan ke dalam ruangan yang kadar udara/kelembapan nya sangat rendah. 

Tahap yang paling penting adalah refining atau pemurnian, setelah minyak mentah diekstraksi, harus diproses dan dimurnikan terlebih dahulu sebelum dapat dikonsumsi karena masih mengandung banyak kotoran, termasuk asam lemak bebas (FFA), fosfolipid, pigmen dan senyawa volatil. 

Baca juga: Mengenal Susu Tempe, Cara Baru Konsumsi Tempe yang Asik dan Kaya Nutrisi

Terdapat beberapa tahap pemurnian biji kapas yaitu degumming atau pemisahan getah, penetralan, bleaching atau pemutihan, deodorization atau menghilangkan zata yang mudah menguap, winterization atau pemisahan senyawa berdasarkan titik leleh. Kelima tahap pemurnian ini bertujuan untuk memurnikan minyak biji kapas dari kotoran serta dari kandungan senyawa gosipol.

Penggunaan Minyak Biji Kapas dan Perkembangannya

Penggunaan dari minyak biji kapas ini telah banyak dilakukan, salah satunya yang paling banyak adalah untuk proses deep-frying. Minyak biji kapas dapat berperan sebagai flavour carrier dan dapat menambah rasa secara alami.

Selain itu, minyak biji kapas juga digunakan untuk membuat kue, serta digunakan sebagai bahan pembuatan margarin, icing, dan whipped toppings karena mampu membantu konsistensi tekstur. Selain itu, dapat digunakan juga untuk saus salad, seperti mayonaise.

Produk turunan dari minyak biji kapas sudah banyak beredar di supermarket maupun di e-commerce. Namun ternyata semua produk turunan dari minyak biji kapas masih diimpor dari luar negeri. Mengapa demikian? Teknologi yang diperlukan untuk memproses biji kapas sangat mahal dan harga dari komoditas ini cukup rendah. Hal ini menyebabkan kurangnya minat untuk memproduksi produk berbasis minyak biji kapas. 

Beberapa produk turunan minyak biji kapas seperti cottonseed oil cake untuk ternak berasal dari India dan untuk minyak biji kapas sendiri juga berasal dari India, USA, dan negara lain. Di Indonesia, hanya produk skincare yang sudah beredar, terutama di e-commerce. Skincare minyak biji kapas ini dibandrol dengan harga yang cukup mahal yaitu sekitar Rp 225.000-295.000. 

Belum terlihat bagaimana pengolahan bahan baku cottonseed ini di Indonesia terutama dalam bidang pangan, akibat rendahnya mutu baik secara genetis dan fisik.  Namun mengingat banyaknya manfaat dari minyak biji kapas dan dapat digunakan sebagai alternatif dalam proses deep-frying, berbagai upaya peningkatan produksi dari cotton seed telah diusahakan melalui berbagai pusat penelitian. 

Ditulis oleh Ayu Patresia Nababan dan Valerie Chou, Mahasiswa Program Studi Food Business Technology angkatan 2020

Referensi

Afzal, I., Kamran, M., Basra., S. M. A., Khan, S. H. U., Mahmood, A., Farooq, M., Tan, D. K. Y. (2020). Harvesting and Post-Harvest management Approaches for Preserving Cottonseed Quality. Journal of Elsevier. Diakses pada hari Minggu, 05 Desember 2021 dari : https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0926669020307597.

Agarwal, D.K., Singh, P., Chakrabarty, M., Shaikh, A.J., Gayal, S.G. (2003). Cottonseed Oil Quality Utilization and Processing. Technical Bulletin from CICR.

Chaisiricharoenkul, J., Tongta, S., & Intarapichet, K. O. (2011). Structure and chemical and physicochemical properties of Job’s tear (Coix lacryma-jobi L.) kernels and flours. Suranaree J. Sci. Technol, 18(2), 109-22. Diakses pada 8 Desember 2021 dari http://www.medicinabiomolecular.com.br/biblioteca/pdfs/Cancer/ca-2727.pdf.

Egbuta, M. A., Mcintosh, S., Waters, D. L. E., Vancov, T., Liu, L., (2017). Biological Importance of Cotton By-Products Relative to Chemical Constituents of the Cotton Plant. Diakses pada hari Senin, 06 Desember 2021 dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6155835/.

Huang, H. C., Hsieh, W. Y., Niu, Y. L., & Chang, T. M. (2014). Inhibitory effects of adlay extract on melanin production and cellular oxygen stress in B16F10 melanoma cells. International journal of molecular sciences, 15(9), 16665–16679. https://doi.org/10.3390/ijms150916665 . Diakses dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4200782/ pada 8 Desember 2021.

Yara (n.d.). Other Products Derived From Cotton Plants. Diakses dari https://www.yara.com.au/crop-nutrition/cotton/other-products-derived-from-cotton-plants/ pada 8 Des 2021.