Apakah Makanan Kaleng Aman?

1
22

Makanan kaleng merupakan salah satu cara praktis untuk mengawetkan makanan. Semua makanan yang diolah dan dikemas dalam kaleng memiliki daya tahan lebih lama dibandingkan makanan lainnya. Inilah yang membuat industri makanan kaleng berkembang pesat selama beberapa tahun terakhir. Masyarakat pun sangat membutuhkan produk makanan yang praktis, lezat, dan dapat dinikmati kapan saja. Selain itu, makanan yang dikemas secara rapat dan tidak tembus cahaya ini bertujuan agar makanan tidak mudah rusak oleh kontaminasi bakteri, virus, jamur, atau parasit lainnya sehingga makanan menjadi lebih awet. Namun pada beberapa makanan kaleng dapat terkontaminasi meskipun sudah ditutup dengan kedap udara karena hal-hal tertentu. Jenis bakteri yang paling sering dijumpai dalam makanan kaleng adalah Clostridium Botulinum.

Clostridium Botulinum adalah bakteri yang memproduksi racun botulin, penyebab terjadinya botulisme. Bakteri ini termasuk bakteri gram positif, anaerob obligat (tidak bisa hidup bila terdapat oksigen), motil (dapat bergerak), dan menghasilkan spora. Kontaminasi bakteri ini dapat menyebabkan keracunan yang berujung dengan kematian jika tidak segera ditangani. Racun botulin dapat menyerang sistem saraf sehingga menyebabkan kelumpuhan saraf. Tanda-tanda seorang keracunan botulinum setelah mengkonsumsi selama 18-36 jam yaitu kejang otot, sulit bernapas, pusing, tenggorokan kaku, perut kembung, sembelit dan penglihatan menjadi ganda. Akibat kesulitan bernapas dapat menyebabkan kematian.

Tanda makanan kaleng yang telah terkontaminasi bakteri Clostridium Botulinum di antaranya adalah berbau asam, busuk, dan tekstur makanan berubah. Namun jika terkontaminasi dengan kadar yang kecil terkadang tidak dapat dilihat perubahannya secara langsung namun dapat menimbulkan penyakit jika dikonsumsi. Maka dari itu, penting bagi kita untuk menyadari bahaya mikroba pada makanan.

Untuk mencegah adanya kontaminan pada makanan kaleng, hal pertama yang harus dilakukan adalah memeriksa kondisi kaleng terlebih dahulu. Kaleng yang baik memiliki fisik yang tidak penyok, tidak cembung, tidak terbuka, tidak bocor, dan tidak ada goresan pada produk. Selain itu, sebaiknya hindari membeli produk yang sudah mendekati tanggal kedaluwarsa karena saat ini banyak konsumen yang menghiraukan label produksi dan tanggal kedaluwarsa. Makanan di dalam kaleng pun harus diperhatikan apakah sudah mengalami perubahan atau belum secara fisik. Sebelum dikonsumsi, sebaiknya makanan kaleng dipanaskan setidaknya selama 30 menit pada suhu ekstrim seperti dalam penggunaan autoclave atau pressure cooker karena bakteri clostridium botulinum ini merupakan salah satu bakteri yang tahan panas. Oleh karena itu, perlu diterapkan perlakuan 12D ini dimana makanan kaleng dipanaskan pada suhu 120°C yang dapat digambarkan secara sistematis dalam 12 log reduksi clostridium.

Jadi, setelah kita mengetahui apa makanan kaleng itu dan bakteri apa yang terdapat pada makanan kaleng,  marilah berhati-hati dalam memilih makanan kaleng! Be aware of Clostridium Botulinum!

OLEH : Jennifer Christy, Kevin Christopher, Laudya Jenita

1 COMMENT