4 Spin-off Energi Hijau dan Terbarukan yang Terlahir dari Riset Akademik

1
251

Sumber gambar: www.varietasconsultant.com

 

Dalam dunia bisnis global, istilah spin-off company sudah cukup sering terdengar. Spin-off company adalah perusahaan yang terbentuk dari kegiatan pada suatu institusi awal, misalnya university spin-off (bentukan hasil penelitian di suatu universitas). Dalam bidang energi hijau dan terbarukan, jumlah university spin-off pada skala global semakin berkembang dalam beberapa tahun terakhir, dan sudah cukup banyak yang menuai kesuksesan dengan mendapatkan pendanaan besar dari investor dan peningkatan valuation perusahaan.

Salah satu kunci penting kesuksesan spin-off energi hijau dan terbarukan di luar negeri tersebut adalah penelitian akademik yang dilakukan di universitas atau lembaga riset sebelum perusahaan terbentuk. Dalam artikel ini, penulis menguraikan 4 dari sekian banyak contoh university spin-off energi terbarukan. Contoh-contoh ini diharapkan dapat mengilhami dan menginspirasi mahasiswa, dosen, dan peneliti di tanah air untuk menciptakan unit-unit bisnis baru dalam bidang energi terbarukan dalam rangka mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, menurunkan emisi karbon dan gas rumah kaca, dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.

SolarBiocells [1, 2]

Spin-off ini didirikan oleh Christine Sharp dan Marc Strous dari grup riset Energy Bioengineering, University of Calgary, di Kanada. Penelitian pasca-doktoral Sharp tentang sebuah konsep baru untuk menangkap dan mengkonversi karbon dioksida menjadi biomassa melatarbelakangi pendirian SolarBiocells. Spin-off ini mengkultur mikroorganisme dalam bioreaktor yang secara alami memproses energi surya dan mengambil karbon dioksida dari atmosfer untuk memproduksi biomassa. Metode yang dikembangkan oleh Sharp dan Strous mampu mengurangi biaya operasional dan investasi sebanyak lebih dari sepuluh kali lipat dibandingkan metode konvensional.

Spero Energy [3, 4]

Center for Direct Catalytic Conversion of Biomass to Biofuels (C3Bio), Purdue University, USA mengembangkan proses yang dapat membebaskan lignin dari cellulose yang terkandung dalam wood biomass dan sampah dan mengkonversinya dengan katalis menjadi produk kimia bernilai tinggi (high value chemicals / HCVs) yang dapat dimanfaatkan oleh industri parfum dan obat-obatan. Cellulose dari wood biomass dan sampah yang telah diambil lignin-nya juga dapat dikonversi dengan lebih mudah menjadi biofuels seperti ethanol. Teknologi delignification ini telah menyederhanakan proses produksi HCVs dan biofuels secara signifikan dan akhirnya melatarbelakangi pendirian Spero Energy.

Physee [5, 6]

Perusahaan yang didirikan oleh Willem Kesteloo dan Ferdinand Grapperhuis ini adalah spin-off dari penelitian yang dilakukan di grup Radiation Science and Technology, Delft University of Technology, Belanda. Physee memproduksi PowerWindow, yaitu sebuah sistem jendela dengan kaca yang dilapisi coating khusus, dimana cahaya matahari yang diserap coating tersebut dibawa ke tepi jendela dengan cara yang sama seperti yang digunakan serat optik. Di tepi jendela, photovoltaic solar cell strips dipasang untuk mengkonversi cahaya yang terkumpul menjadi listrik. Teknologi terintegrasi ini dinamakan BI-CPV (Building-Integrated Concentrated Photovoltaics). Keunggulan utama teknologi ini adalah fungsi dan estetika jendela tidak dikorbankan oleh pemasangan solar cell karena jumlah solar cell yang dibutuhkan per satuan luas kaca jendela dapat dikurangi secara drastis (sekitar 100 kali lipat) dengan adanya solar cell strips di tepi jendela.

Gelion [7, 8]

Thomas Maschmeyer, profesor bidang Kimia di University of Sydney, Australia mendirikan Gelion yang memfokuskan bisnisnya pada teknologi baterai yang menggunakan nano-structured gel. Penggunaan nano-structured gel pada baterai dapat mengungguli teknologi lithium ion yang sudah sering digunakan sekarang ini dalam hal kecepatan charging, ukuran, keselamatan, daya tahan, dan harga. Karena berbasis gel, baterai ini juga lentur sehingga dapat dimanfaatkan untuk menyimpan energi listrik dari panel surya yang dipasang di perumahan, di mana baterai tersebut dimasukkan dalam struktur dinding rumah. Karena keunggulan-keunggulan tersebut, Gelion telah berhasil mendapatkan pendanaan sebesar 11 juta US dollar dari Armstrong Energy, sebuah perusahaan penanam modal dari UK di bidang energi terbarukan.

 

Referensi:

(1) https://www.ucalgary.ca/utoday/issue/2016-06-15/postdocs-biofuels-startup-offers-new-source-clean-renewable-energy
(2) solarbiocells.com

(3)https://www.purdue.edu/newsroom/releases/2014/Q1/purdue-researchers-launch-innovative-biomass-renewable-energy-company.html
(4) http://www.speroenergy.com/
(5) http://www.physee.eu/

(6) http://www.delftenterprises.nl/en/portfolio/physee/

(7) http://sydney.edu.au/news-opinion/news/2016/04/13/-11m-uk-investment-in-nano-start-up-boon-for-eco-energy.html

(8) http://reneweconomy.com.au/australian-gel-based-battery-technology-attracts-major-uk-finance-73407

 

 

1 COMMENT