Mie Instan SUPERHERO?

1
244

Indonesia mengawali tahun 2017 dengan intensitas kejadian bencana alam yang terus meningkat. Beberapa waktu lalu banjir bandang melanda kota Bima (NTB), Sumbawa, Solok (Sumatera Barat), Pamekasan (jawa Timur), Aceh, Garut (Jawa Barat), dan masih banyak lagi. Menurut BMKG, adanya dua siklon yang tumbuh di bagian selatan pulau Jawa dan bagian utara pulau Papua merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor banyak terjadi. BMKG juga telah memprediksi curah hujan di setiap wilayah Indonesia sampai Maret 2017 didominasi dengan curah hujan menengah hingga curah hujan tinggi.

Melihat fenomena di awal tahun ini, banyak pula lembaga/yayasan yang menggalang bantuan untuk para korban bencana. Change.org yang kita tahu hanya sebagai lembaga penyampai PETISI ONLINE pun ikut meramaikan aktivitas sosial ini. Bentuk bantuan yang direkomendasikan pun beragam, mulai dari bantuan dana, makanan, air bersih, obat-obatan, tempat pengungsian, pakaian, dan lainnya. Satu hal yang menarik dari aktivitas ini adalah kita akan selalu melihat kardus-kardus mie instan yang tersebar di wilayah pengungsian. Bahkan ada anekdot yang cukup menggelitik, isinya seperti ini:

     Alkisah, di sebuah sekolah menegah atas, ibu guru memberi pertanyaan pada murid- muridnya:

     “Ayo anak-anak siapa yang paling dihormati ketika bencana alam terjadi?”

     Anak-anak kontan bingung, apa urusannya bencana alam dengan seseorang yang dihormati?

     Ibu guru pun memberikan pilihan jawaban:

     “ A anggota DPR, B. Presiden, C. Menteri, D. Bupati, E. Mie instan”

     Anak-anak makin bingung mengenai jawaban E. Tapi mendadak ada salah satu murid yang berteriak , “E, ibu! Mie instan!”

     Ibu guru pun tertegun “Kenapa jawabannya mie instan?”

     Si anak menjawabnya dengan pasti, “karena ketika bencana alam mie instan selalu datang lebih cepat daripada yang lainnya”

 Ya, faktanya memang seperti itu dan saat ini tidak bisa dipungkiri bahwa mie instan dianggap seperti superhero bencana alam. Mengapa mie instan menjadi subjek yang paling terdepan dalam membantu korban bencana alam? Saya jadi teringat dengan apa yang disampaikan salah satu pembicara di seminar publik yang diadakan oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengenai peningkatan ketahanan pangan di Indonesia pada bulan Mei tahun lalu. Beliau adalah Ibu Denni Puspa Purbasari dari kantor staf presiden bagian bidang kajian dan pengelolaan isu-isu ekonomi strategis yang juga merupakan salah satu staf pengajar di Fakultas Ekonomi UGM. Secara garis besar beliau bercerita, beberapa lembaga non profit sering mensatire bahwa telah terjadi perbuatan “javanisasi” untuk wilayah-wilayah marginal di Indonesia yang terkena bencana”. Beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud javanisasi oleh lembaga tersebut adalah penduduk indonesia timur yang seakan-akan “dipaksa” mengikuti kebiasaan penduduk Jawa, yaitu mengonsumsi mie instan. Adanya “javanisasi” tersebut mengakibatkan penduduk marginal mulai meninggalkan pangan lokal sehingga berbahaya bagi ketahanan pangan Indonesia. Hal ini yang dikhawatirkan oleh lembaga non profit tersebut.

Beliau kemudian berpendapat bahwa saat ini mie instan adalah salah satu bantuan yang paling memungkinkan dan efektif untuk didistribusikan ke wilayah bencana, terlebih jika akses menuju wilayah tersebut tertutup. Mie instan dapat didistribusikan dengan menerjunkan langsung satu per satu dari pesawat udara karena sifatnya yang ringan dan praktis. Sedikit menyulitkan jika menerjunkan pangan lokal (sebut saja ubi, singkong, sagu dan sebagainya) yang notabene memiliki berat lebih besar dibandingkan mie instan. Selain itu mie instan cenderung memiliki shelf life lebih lama dibandingkan pangan lokal.

Dari cerita di atas, sebetulnya ini merupakan tantangan bagi seorang food technologist. Seorang food technologist tidak hanya mampu menciptakan produk pangan saja tetapi juga harus mampu melihat kebutuhan pasar, kondisi lingkungan, dan sumber daya yang dimiliki sehingga produk pangan yang diciptakan bersifat aplikatif dan bermaslahat. Seorang food technologist harus bisa memerantarai keinginan dan pendapat yang berbeda sehingga gap diantaranya dapat diminimalisir. Salah satu solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi permasalahan di atas misalnya membuat mie instan yang berbahan dasar pangan lokal, seperti mie instan yang dibuat dari tepung sagu, tepung jagung, tepung ubi, dan lain-lain. Dengan begitu, tetap ada upaya untuk melestarikan pangan lokal bagi ketahanan pangan Indonesia. Tentunya jika mie instan dirasa masih efektif sebagai subjek pemberi bantuan bagi wilayah bencana karena sifatnya yang ringan, praktis, dan memiliki shelf life yang lama. Bahkan improvisasi mie instan dengan bahan pangan lokal mampu menicptakan shelf life lebih lama. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah masihkah mie instan tetap menjadi superhero bencana alam?

 

*artikel ditulis oleh Ms. Rike Dewi, STEM Faculty Member pada tanggal 10 Januari 2017 dalam perjalanan dari Jakarta – Kolaka

*mengutip dari Data BMKG Januari 2017 (http://dataonline.bmkg.go.id/home) dan artikel KOMPASIANA yang ditulis oleh Matthew Hanzel (http://www.kompasiana.com/matthewhanzel/ hormat-pada-mie-instan-grak_55003b4ba3331130725100e9)