Harmonisasi Kemitraan Universitas dan Industri dalam Peningkatan Inovasi dan Mutu Perguruan Tinggi

0
199

*image source: http://www.step-tempus.net/

 

Dalam agenda global pendidikan tinggi, inovasi berbasis kemitraan dengan industri semakin mendapatkan perhatian khusus. Dalam sebuah artikel baru-baru ini, Times Higher Education (THE) menyoroti kembali betapa pentingnya dampak ekonomis terhadap masyarakat dari inovasi hasil kolaborasi perguruan tinggi dan industri. Artikel tersebut juga mengungkapkan daftar institusi atau perguruan tinggi mana saja yang mempunyai performa terbaik dalam hal inovasi dan penemuan berbasis kemitraan dengan industri sesuai empat indikator, yaitu persentase publikasi ilmiah yang ditulis bersama-sama dengan pihak industri (co-authored papers), proporsi artikel ilmiah yang dikutip oleh paten, jumlah pendapatan riset dari industri, dan proporsi pendapatan riset dari industri. Daftar tersebut merupakan hasil studi THE dengan Elsevier.

THE menggarisbawahi beberapa hal yang menarik dalam daftar tersebut. Pertama, banyak institusi yang berkinerja baik sesuai empat indikator di atas ternyata tidak menonjol atau tidak masuk sama sekali dalam Times Higher Education World Rankings, yang mengutamakan keluasan cakupan riset dan pengajaran. Namun, institusi-institusi tersebut berprestasi sangat luar biasa dalam bidang-bidang tertentu. Kedua, institusi dari AS dan Cina mendominasi, masing-masing dengan sembilan dan sepuluh institusi. Ketiga, beberapa institusi sangat menonjol dalam lebih dari satu indikator inovasi, misalnya Mines ParisTech di Prancis. Institusi ini berada di posisi 226-250 dalam THE World Rankings, tetapi berada di posisi ketiga dalam daftar ranking menurut proporsi terbanyak pemasukan riset dari industri dan juga di posisi limabelas menurut proporsi paper yang ditulis bersama dengan industri.

Ada banyak cerita yang dapat ditelusuri lebih lanjut tentang bagaimana institusi-institusi dalam daftar THE di atas dapat berprestasi dalam hal inovasi dan kemitraan dengan industri. Untuk kasus Mines ParisTech misalnya, institusi dalam bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) ini mengalokasikan sekitar 80 persen dari anggaran tahunannya untuk penelitian. Dari 80 persen ini, kira-kira hampir setengahnya adalah pendanaan langsung dari industri atau hibah dari Uni Eropa. Mines ParisTech juga menandatangani sekitar 600 kontrak per tahun dengan mitra industri. Lebih jauh lagi, 150 dari total 428 staf akademik digaji melalui kontrak riset dengan industri. Institusi ini juga terus mendorong staf riset dan dosennya untuk mengerjakan penelitian bersama industri sampai pada tahap publikasi ilmiah.

Sama halnya dengan Duke University, sebuah universitas swasta ternama di Amerika Serikat, yang meluncurkan innovation and entrepreneurship initiative di tahun 2010. Duke menerima jumlah pemasukan riset dari industri ketiga tertinggi dalam daftar ranking indikator inovasi THE. Universitas ini merupakan satu dari hanya dua universitas dalam daftar tersebut yang juga termasuk dalam 20 universitas terbaik dalam THE World Ranking di tahun sebelumnya. Riset-riset yang dilakukan banyak yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, antara lain pengobatan terbaru untuk penyakit Pompe (semacam kelainan genetis yang dapat melumpuhkan hati dan otot kerangka) dan sebuah kamera gigapixel beresolusi tinggi yang dapat memperkuat liputan pertandingan olahraga di televisi. Duke juga menetapkan aturan dalam bermitra dengan industri. Mereka tidak ingin mendapatkan dana riset dari perusahaan yang tidak mengizinkan mereka mempublikasikan hasil penelitiannya.

Eindhoven University of Technology di Belanda, yang menghasilkan proporsi jumlah paper yang dipublikasikan bersama dengan industri ketujuh tertinggi dalam THE Innovation Ranking, juga menolak untuk melakukan riset dengan industri yang hasilnya tidak boleh dipublikasikan. Namun, TU Eindhoven menerapkan skema kolaborasi yang cukup berbeda dibandingkan banyak universitas lainnya. Dari 300 profesornya, setengahnya bekerja penuh waktu dan dipekerjakan universitas. Setengah lainnya bekerja paruh waktu, dan sekitar 80 persen dari kelompok ini dipekerjakan oleh industri, dimana mereka membagi waktunya untuk bekerja di universitas dan di perusahaan. Hal ini dimungkinkan mengingat letak kampus yang dikelilingi oleh banyak industri teknologi tinggi multinasional, termasuk Philips dan NXP Semiconductors. Program pengajaran di TU Eindhoven mencakup tiga tema yang relevan dengan perusahaan-perusahaan ini, yaitu smart mobility, kesehatan, dan energi.

Contoh-contoh di atas mudah-mudahan dapat menginspirasi institusi perguruan tinggi dan industri di tanah air untuk lebih giat berkolaborasi dalam penelitian yang terpublikasikan secara ilmiah dan menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Dana penelitian dari pemerintah, yang masih menjadi andalan selama ini, tetaplah penting, tetapi skema kerja sama dengan industri harus sudah mulai diperbanyak.

*article from zss

 

Referensi:

https://www.timeshighereducation.com/features/which-universities-are-the-most-innovative