Adhika Dwi Pramudita: “Menjadi Entrepreneur Itu Seperti Naik Roller Coaster”

0
233

Bagaimana sih cara belajar dan mempersiapkan diri menjadi seorang entrepreneur yang baik? Untuk mencari jawabannya, kami bertanya pada Adhika Dwi Pramudita, founder Studentpreneur.

Sekadar informasi, Studentpreneur adalah platform belajar online yang menampilkan puluhan kursus bisnis dan entepreneurship. Saat ini, semua video di situs tersebut dapat diakses secara gratis. Fitur berbayarnya, yang menampilkan video-video dan kursus eksklusif, akan diluncurkan pada kuartal ke-2 2016.

Yuk, simak cerita entrepreneur dari Adhika!

Seperti naik roller coaster

Ditanya mengenai motivasi menjadi entrepreneur, Adhika mengungkapkan alasannya adalah karena tantangan untuk menjadi entrepreneur sukses itu besar.

“Menjadi entrepreneur seperti sedang naik roller coaster, hari ini kita merasa bisa menaklukkan dunia, tapi besoknya merasa bangkrut dan tidak berdaya,” ungkap Adhika.

Namun, ia merasa justru di situlah letak kenikmatannya.

“Faktor yang paling menyenangkan adalah saat kita bisa memecahkan persoalan yang sangat besar. Sama senangnya seperti saat kita berhasil menyelesaikan sebuah puzzle,” tambahnya.

Kesenangan memecahkan tantangan tersebut tentunya akan bertambah jika diiringi oleh misi besar untuk mengubah dunia.

Menjadi entrepreneur itu seperti sedang naik roller coaster, hari ini kita merasa bisa menaklukkan dunia, tapi besoknya merasa bangkrut dan tidak berdaya.

Bagi Adhika, misi besar itu adalah untuk menyediakan pendidikan dan sarana pembelajaran dengan harga yang terjangkau. Ia merasa bahwa pendidikan bisnis itu penting bagi pengusaha untuk meraih kesuksesan.

“Sekitar 9 dari 10 startup yang baru muncul berakhir dengan kegagalan. Salah satu cara paling efektif untuk mengurangi risiko kegagalan itu adalah lewat pendidikan entrepreneurship,” ungkapnya.

Namun biaya yang perlu dibayar untuk itu biasanya tidak sedikit. Adhika mencontohkan beberapa kampus bisnis yang biaya per semesternya bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah.

Melihat gap ini, Adhika memutuskan untuk menciptakan dan berbagi kursus entrepreneurship. Kursus-kursus ini khususnya ditujukan bagi mahasiswa, dengan visi utama menciptakan satu juta pebisnis baru di Indonesia.

Informasi ini awalnya disampaikan dalam bentuk tulisan lewat media online dan media cetak. Namun Adhika merasa itu masih kurang, sehingga ia melengkapinya dengan video yang kini menjadi fitur utama di Studentpreneur.

cover2

Tidak perlu minder atau arogan

Memahami pentingnya pendidikan, Adhika juga terus menimba ilmu bisnisnya hingga hari ini. Ia secara rutin meminjam buku dari perpustakaan di kampusnya dulu dan membaca artikel dan berita-berita startup.

“Saya biasanya tidak melihat berapa funding yang didapat, tetapi apa yang membuat mereka bisa mendapat funding itu. Entah itu teknologinya atau sistemnya,” ucap Adhika.

Namun, Adhika juga berpendapat bahwa membaca buku saja tidak akan cukup untuk memahami bisnis.

“Kita butuh saran dan masukan dari entrepreneur yang sudah duluan sukses,” katanya.

Ia menceritakan bahwa dirinya banyak belajar dan bertanya kepada tokoh-tokoh startup, termasuk William Tanuwijaya dari Tokopedia dan Wilson Cuaca dari East Venture.

“Seringkali kita hanya perlu bertanya kepada mereka tentang permasalahan yang kita hadapi. Namun, meski usahanya sudah besar, mereka masih mau menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar bisnis dan startup,” ungkapnya.

Jadi, kalau merasa tidak minder dan tidak arogan, ya tanya saja.

Adhika berbagi tip tentang bagaimana menciptakan relasi dengan entrepreneur yang sudah sukses. Menurutnya, selama kita humble dan tulus bahwa kita mau belajar, mereka tidak akan segan-segan berbagi ilmunya.

Adhika berpendapat bahwa kebanyakan orang terlalu minder atau terlalu arogan untuk bertanya. “Jadi, kalau merasa tidak minder dan tidak arogan, ya tanya saja.” tambahnya.

Belajar dari fail story

Topik yang paling disukai Adhika adalah fail story dari para entrepreneur, bukan hanya success story saja. Adhika tertarik mempelajari bagaimana mereka bisa menghadapi kegagalan dan memecahkan masalah. Dari sana, ia mempelajari pola pemecahan masalah yang nantinya dapat ia gunakan saat menghadapi situasi yang sama.

Ditanya tentang pelajaran dari fail story yang pernah ia alami sendiri, ia berbagi dua hal. Pertama adalah mengenai pentingnya cashflow. Ia menceritakan saat bekerja sebagai freelancer, dirinya mendapatkan pemasukan yang besar. Namun ia tidak memiliki sistem pengelolaan uang yang baik, hingga akhirnya uang itu hilang tanpa jejak.

“Kita kehilangan uang, tetapi kita tidak sadar,” ungkapnya.

Ia mengatakan, sebesar apa pun pendapatan kita, bila kita tidak dapat mengelolanya dengan baik, pendapatan itu akan menguap dengan segera. Karena itu ia menekankan pentingnya ilmu manajemen finansial bagi entrepreneur.

Kedua, ia berbagi tentang pentingnya timing dalam usaha. Ia pernah menciptakan sebuah produk fintech yang cukup canggih dan memiliki potensi tinggi untuk sukses. Ia bahkan sudah mendapatkan investor yang mau mendanai startup tersebut. Namun meski produknya bagus, bank-bank yang menjadi partner utama mereka ternyata belum siap mengintegrasikan sistemnya dengan sistem yang dimiliki Adhika.

Akibatnya, meski jumlah pengguna dan traffic terus tumbuh, produk tersebut tidak bisa berjalan lebih jauh dan memberikan pelayanan maksimal. Hingga akhirnya investor memutuskan untuk tidak lagi memberikan dana.investor

Dari sana Adhika belajar bahwa, meski penting, uang bukanlah segalanya. Meski kita memiliki dana investor di bank, bisnis tak akan berjalan bila market belum catch-up dengan teknologi yang kita tawarkan. Memang, menurut Bill Gross dalam salah satu sesi presentasinya di TED, timing adalah hal yang paling berpengaruh dari kesuksesan sebuah startup. Bukan uang!

Dari kedua kegagalan ini, Adhika terus memperbaiki diri dan menggunakan ilmunya untuk membangun Studentpreneur yang berdiri hingga hari ini.

https://id.techinasia.com